Sudah
tidak terbantahkan lagi bahwasannya saat ini banyak orang yang berlomba-lomba
berjuang untuk mencapai impiannya. Seiring dengan semakin berkembangnya zaman, kebanyakan
dari kita mengukur keberhasilan hidup dengan banyaknya uang dan tingginya
sebuah jabatan. Hal itu pula yang membuat banyak orang menghabiskan waktunya
untuk terus terpaku pada usahanya agar tidak sia-sia. Namun, bagaimana jika
hasil berkata sebaliknya? Mereka menuai kegagalan bahkan sebelum hasil baik
muncul ke permukaan. Pada akhirnya manusia hanya mengkhawatirkan masa depan
karena takut gagal dan mengecewakan orang-orang tersayangnya.
Kekhawatiran
atas kesuksesan yang diinginkan tidak tercapai di masa depan adalah sesuatu
yang wajar dan dapat dijadikan motivasi bagi empunya. Namun, pernahkah kita mengira
bahwa ketakutan tersebut hanya akan jadi sia-sia? Tidak peduli di masa depan
akan bagaimana nasibnya, sejatinya impian yang dirancang adalah untuk
kebahagiaan. Banyak orang yang tanpa sadar digiring untuk memperjuangkan
kebahagiaan di masa depan dengan mengorbankan kebahagiaan di masa sekarang.
Tidak ada salahnya bukan jika kita benar-benar menikmati hidup hari ini sembari
menyiapkan rancangan hidup di masa depan. Hal tersebut justru akan membuat kita
semakin menghargai atas apa yang kita miliki sekarang
Banyak
orang yang seakan-akan hidup di masa depan dan di masa lalu. Terjebak bayangan masa
lalu dan terlalu khawatir akan kehidupan di masa depan yang kadang kala membuat
kita lalai dan lupa atas nikmat yang sudah disediakan di hari ini. Bisa jadi
sesuatu yang kita miliki saat ini adalah sesuatu yang sangat kita inginkan di
masa lalu, hanya saja mata kita terlalu gelap untuk mengakuinya karena terlalu
fokus dengan angan-angan masa depan yang penuh ketidakpastian.
Kekhawatiran
terhadap masa depan tentunya akan sia-sia karena memang masa depan adalah
sebuah misteri dan hanya waktulah yang dapat memecahkannya. Jangan menjadi
seseorang yang hanya fokus pada bayangan gelap masa depan dan menyesal karena
tidak pernah merasakan bagaimana hidup yang seharusnya.
Analogi
yang mungkin dialami setiap orang adalah ingin cepat lulus SMA agar bisa
kuliah, ingin cepat lulus kuliah agar bisa kerja, dan begitu seterusnya. Namun,
apa yang terjadi? Banyak orang yang justru merindukan masa sekolah setelah
mereka menjadi pekerja, bahkan ada juga yang ingin kembali ke masa kecil karena
dirasa masa tersebut adalah masa dimana tidak ada beban yang harus ditanggung.
Bukankah hal ini adalah sesuatu yang cukup sering kita rasakan, kita bahkan
tidak melihat bagaimana hidup kita di masa sekarang yang mungkin saja adalah
hidup impian kita di masa lalu.
Kita
memang tidak pernah bisa lepas dari keindahan masa lalu, begitupun dengan
kepedihannya. Terlalu sering kita larut memikirkan bagaimana agar masa depan
kita jauh lebih baik dari masa lalu yang sudah terjadi. Hingga tidak terasa
kita telah menghabiskan waktu di masa sekarang dan menyia-nyiakannya. Begitulah
hidup, banyak hal tidak terduga yang terjadi di luar batas kemampuan dan
kesadaran manusia. Kita hanya perlu memetik pelajaran dan mensyukurinya.
Tentunya
ini bukanlah pembelaan bagi kaum yang pasrah akan hidupnya. Sebaliknya, kita
harus memperjuangkan kebahagiaan di masa depan dengan pembelajaran dari masa
lalu tanpa menyia-nyiakan kebahagiaan di masa sekarang. Ini bukanlah hal yang
mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin. Bersiaplah untuk menghadapi hari esok
tanpa mengkhawatirkannya secara berlebihan.
Bermimpilah
setinggi-tingginya tanpa harus terobsesi dengan mimpi yang kita pilih sendiri.
Nikmatilah prosesnya dengan mensyukuri atas apa yang terjadi hari ini. Hari ini
adalah kehidupan dimana kita benar-benar hidup. Hari ini adalah kesempatan
untuk bersama dengan orang-orang terdekat yang mungkin esok hari sudah tidak
bersama lagi. Jangan pernah menjadi orang yang menyesal di masa depan karena
sudah menyia-nyiakan hari ini. Hiduplah hari ini maka kamu akan semakin
menghargai hidupmu.
Komentar
Posting Komentar